JAKARTA, KOMPAS.com – Aktris Prilly Latuconsina merefleksikan satu dekade perjalanannya bersama waralaba film Danur. Baginya, film tersebut bukan hanya menjadi tonggak penting dalam karier, tetapi juga berperan mengikis stigma negatif terhadap aktor sinetron di industri film Indonesia. Prilly mengenang, ketika pertama kali ditawari membintangi Danur sepuluh tahun lalu, industri film horor Tanah Air tengah berada di fase yang kurang baik dengan citra kualitas yang rendah. Baca juga: 10 Tahun Perankan Risa Saraswati, Prilly Latuconsina Akui Pandangannya soal Hantu Berubah “Saya ingat sekali 10 tahun lalu, film horor itu lagi enggak terlalu baik. Banyak produksi yang kualitasnya kurang bagus. Waktu ditawari, saya sempat ragu, takut akan banyak adegan yang enggak layak dan merasa enggak sanggup. Tapi ternyata Danur berbeda,” ujar Prilly Latuconsina di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (12/1/2026). Pemeran Risa Saraswati itu menilai kesuksesan Danur menjadi momentum kembalinya kepercayaan produser untuk menggarap film horor berkualitas tanpa mengandalkan unsur kontroversial. Dayu Wijanto, Memerankan Tiga Karakter Sekaligus Artikel Kompas.id “Film Danur menjadi awal kembalinya film horor yang diproduksi dengan kualitas baik. Enggak ada lagi citra horor ‘ecek-ecek’ seperti dulu. Setelah itu, banyak film horor bagus yang lahir sampai hari ini,” tuturnya. Baca juga: 10 Tahun Perankan Risa, Prilly Latuconsina Pamit Lewat Danur: The Last Chapter Prilly juga mengungkap tantangan pribadi yang ia hadapi saat bertransisi dari pemain sinetron ke layar lebar. Pada masa itu, kemampuan aktingnya kerap diragukan publik. “Waktu itu saya dari sinetron, enggak banyak yang yakin saya bisa akting di film. Stigma bahwa aktor sinetron enggak pantas main film itu masih kuat, enggak seperti sekarang. Saya sering baca komentar di media sosial, ‘dia kan pemain sinetron, emang bisa main film?’,” kenang Prilly. Menurut Prilly, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa kualitas seorang aktor tidak ditentukan oleh titik awal kariernya, melainkan oleh dedikasi dan kemauan untuk terus berkembang. Baca juga: Prilly Latuconsina Cerita Romantisnya Omara Esteghlal: Dibelikan Tiket ke Yogyakarta Demi Makan Mi Ayam “Akhirnya banyak yang sadar bahwa enggak ada pengaruhnya aktor film atau sinetron. Kalau dia berdedikasi pada akting dan terus ingin berkembang, semua orang berhak punya tempat,” tegasnya. “Semua aktor sama, tergantung bagaimana dia berdedikasi di dalam satu proyek,” tambah Prilly. Ia pun menegaskan bahwa dampak Danur tidak hanya dirasakan dalam perjalanan kariernya, tetapi juga pada perkembangan film horor Indonesia secara umum. Baca juga: Tak Percaya Bisa Kerja Lagi, Tanti Bangga Ikut Terlibat Program MBG di Usia Senja “Jadi Danur bukan hanya berpengaruh untuk karier saya, tapi juga untuk film-film horor yang lain,” pungkasnya. Perjalanan panjang Prilly Latuconsina dalam jagat Danur akan segera mencapai akhir melalui film Danur: The Last Chapter yang dijadwalkan tayang pada momen Lebaran 2026 mendatang.
Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6